Menu

Skema Sensor Penggerak Gerbang Otomatis (Pembuka Penutup Pagar)

Kalau Anda mencari seperti apa skema sensor pembuka pintu gerbang dan penutup yang otomatis maka tidak salah lagi karena dalam tulisan ini akan dibahas mengenai rangkaian penggerak gerbang otomatis dalam hal ini akan mengontrol pergerakan pintu pagar atau pintu garasi sehingga kita dapat lebih mudah dalam mengoperasikannya.

Sistem operasi yang diterapkan kedalam perangkat keamanan saat ini memang serba otomatis, mulai dari pemasangan alarm anti maling sampai dengan sensor yang dapat menggerakkan pintu pagar otomatis sehingga kalau ada orang yang keluar masuk pintu tersebut akan terbuka dan menutup sendiri. Tentu saja tidak mudah memahami rangkaian semacam ini, diperlukan kecermatan tinggi, karena komponen yang digunakan cukup kompleks dan kita tidak dapat membaca rangkaian tersebut dengan cepat.

Namun dengan ketelitian tinggi maka bukan hal mustahil untuk menemukan kecocokan dari apa yang dicapai selama ini ketika kita mencari suatu masalah kedalam penyebab dan bagaimana hal itu dapat terjadi. Sehingga ditemukan kejelasan mengenai inti dari skema sensor pembuka pagar tersebut yang pada akhirnya akan memungkinkan kita menjalin keamanan untuk mencapai tujuan akhir dari apa yang ingin dilakukan selama ini.

 

Rangkaian sensor pintu gerbang otomatis

Meskipun sudah berusaha dengan maksimal untuk menemukan seperti apa konsep sebuah pintu gerbang dapat bekerja dengan menggunakan sensor pembuka dan penutup secara otomatis, namun ternyata tidak mudah menemukan hal itu apalagi yang pernah membuktikan membuatnya dengan konsep DIY. Sehingga akhirnya admin menemukan salah satu skema penutup pintu gerbang ini yang memungkinkan untuk mengoperasikannya dengan baik.

Silakan dicermati skema dibawah ini, dengan harapan dapat memberikan pemahaman mendalam seperti apa kelanjutan dari keinginan untuk membuat sendiri sensor penggerak yang dapat kita lakukan dengan adanya rangkaian ini sehingga dapat dilakukan dengan sangat sederhana terutama kalau kita sudah belajar memahaminya.

Pada gambar diatas kita dapat membaca bagaimana sebuah sensor dapat bekerja ketika memiliki konsep yang sudah dilakukan, dan akan membawa perubahan tersendiri dalam pemikiran kita meskipun menggunakan komponen yang tidak sedikit, namun menghasilkan sesuatu yang mudah dimengerti dan yang terpenting kita dapat membuatnya sendiri kalau memang mempunyai keinginan kuat.

 

Penjelasan

Dari gambar skema pembuka pintu gerbang otomatis diatas kita dapat melihat sebuah konsep rangkaian yang nampak rumit untuk dipahami. Memang sedikit sulit untuk mengerti apa yang selalu di inginkan dari sebuah keadaan apalagi kalau itu berhubungan dengan rangkaian sensor. Namun perlahan diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam saat kita mengerti rangkaian tersebut tahap demi tahap pada tiap komponen yang digunakan.

Awalnya, ketika sinar laser jatuh pada foto-transistor T1, ia memberikan bias pada T3 transistor terbalik dan input ke gerbang pertama (N1) IC1 (CD4011) rendah. Output tinggi pada pin 3 maju N1 gerbang bias transistor LED-driver (T4) dan LED siaga hijau (LED2) menyala terus menerus. Sisa sirkuit tetap dalam kondisi siaga.

Pada saat ada gangguan atau benda yang menghalangi sinar laser, foto-transistor T1 berhenti beroperasi dan transistor T3 menjadi bias maju. Ini membuat output gerbang N1 menjadi rendah. Dengan demikian transistor LED-driver T4 menjadi bias balik dan LED2 berhenti bersinar. Diwaktu yang bersamaan, output rendah gerbang N1 membuat output N2 tinggi. Seketika, level tinggi ini pada pin 4 dari gerbang N2 memicu multivibrator monostable yang dibangun di sekitar dua gerbang IC1 (N3 dan N4) yang tersisa. Nilai resistor R8 dan kapasitor C1 menentukan periode waktu monostable.

Monostable kedua yang dibangun di sekitar IC2 (CD4538) diaktifkan oleh pulsa tinggi di pin input12 melalui output gerbang N4 dari monostable pertama ketika sinar laser terganggu. Hasilnya, relai energi RL1 dan motor pembuka pintu mulai beroperasi. LED3 menyala untuk menunjukkan bahwa motor pembuka pintu mendapatkan pasokan. Pada saat yang sama, piezobuzzer PZ1 membunyikan peringatan. Transistor T5, yang basisnya terhubung ke Q output (pin 10) dari IC2, digunakan untuk menggerakkan relay. Transistor T6, yang basisnya terhubung ke Q output IC2, digunakan untuk menggerakkan piezobuzzer intermiten. ‘Waktu penyalaan RL1 dapat disesuaikan dengan memvariasikan trimpot VR2. Resistor R9, variabel resistor VR2 dan kapasitor C3 menentukan periode waktu monostable kedua dan melewatinya pada saat RL1.